Jika anda termasuk orang yang suka mengumpulkan sertifikat dan ijasah, dan kadang kala memperhatikan berapa banyak jumlah sertifikat yang dimiliki itu. Kemudian, coba perhatikan kembali sertifikat itu satu demi satu, sambil mengingat kembali event apa yang pernah diikuti sehingga
berhak mendapatkan sertifikatnya. Selanjutnya, coba ingat-ingat kembali; topik, ilmu atau keterampilan apa pernah dipelajari dalam
event itu. Lalu, tanyakan kepada diri sendiri; berapa banyak ilmu atau keterampilan itu yang masih dimiliki hingga saat ini? kemudian jika mengingat keseluruhan ilmu yang diwakili oleh sertifikat itu, sepertinya kok termasuk orang istimewa. , tapi kenyataannya kok tidak . Sebab hanya
memiliki sertifikatnya saja, namun sudah tidak lagi memiliki ilmunya. Mengapa bisa demikian?
Di komplek perumahan yang saya tinggali terdapat beberapa unit rumah kosong. Kata orang, rumah-rumah tersebut sudah belasan tahun
tidak ditinggali. Dulu, rumah-rumah itu tampak cantik dan tertata rapi. Namun setelah ditinggalkan, debu-debu yang dibiarkan lama
kelamaan menyebabkan menempelnya segala kotoran. Lantas, hujan dan panas yang datang silih berganti menyebabkan kayu-kayu rumah itu
menjadi lapuk. Sekarang, bahkan atapnya nyaris ambruk. Semua jendelanya hancur, pintu dan kusen-kusen tak lagi berujud. Beda sekali
dengan rumah-rumah lain disekitarnya yang terus dihuni. Meskipun umurnya sama tak muda, namun, rumah-rumah berpenghuni tampak tetap
indah tak kurang suatu apapun.
Sekarang, mari kita bahas 3 kemiripan rumah kosong tadi dengan ilmu pengetahuan kita. Pertama, sertifikat diklat identik dengan
sertifikat kepemilikan properti. Kedua, tanah tempat rumah itu dibangun identik dengan otak tempat kita menyimpan ilmu pengetahuan.
Ketiga, rumah yang dibangun ditanah itu identik dengan ilmu yang disimpan dalam otak kita.
Meskipun rumah itu tidak digunakan, sang pemilik rumah tidak serta merta kehilangan sertifikatnya. Dia tetap memiliki sertifikat itu.
Sama dengan kita. Meskipun kita tidak menggunakan ilmu pengetahuan itu, namun kita masih memiliki sertifikatnya. Ukuran tanah
rumah-rumah itu tidak berkurang. Mungkin ukuran otak kita juga tidak berkurang. Namun, rumah yang dibiarkan kosong itu kini nyaris
tidak berbentuk lagi, hingga lebih cocok disebut ’reruntuhan’. Boleh jadi, ilmu pengetahuan kita yang bersertifikat itu pun kini
tinggal ’reruntuhan’ karena sudah terlalu lama tidak digunakan.
Bayangkan jika sang pemilik rumah kosong tadi membeli properti dimana-mana. Mengumpulkan sertifikatnya. Lalu membiarkan semua
properti yang sudah dibelinya tidak digunakan. Sekarang, bayangkan perusahaan memiliki komitment untuk mengirim kita mengikuti
diklat ini dan itu, hingga mendapatkan banyak sertifikat. Namun, kita seperti sang pemilik rumah yang tidak menggunakan rumah-rumah
yang telah dibelinya tadi. Boleh jadi, itulah sebabnya; mengapa banyak ilmu kita yang menghilang. Meskipun kita masih menyimpan
sertifikatnya dalam map dan figura-figura yang indah; namun. Kita sudah tidak lagi memiliki ilmunya.

Comments